Sabtu, 16 Oktober 2010

New Media

New Media dalam Bahasa Indonesia dapat diartikan dengan media baru. Dilihat dari namanya, “Media Baru” berarti sesuatu yang bersifat baru. Media adalah suatu produk teknologi komunikasi. Jika diartikan, New Media adalah produk dari media teknologi komunikasi yang datang bersama-sama dengan komputer digital. Sebelum tahun 1980-an, media yang berkembang dan diandalkan adalah media dengan model cetak dan analog seperti Koran, bioskop televisi dan radio. Saat ini kita memiliki radio, televisi, digital dan bioskop. Bahkan, untuk mendapatkan hasil yang lebih baik dan memuaskan, saat ini dapat menggunakan software (perangkat lunak) seperti Adobe Photoshop dan desktop publishing tools. Sehingga, dengan menggunakan software tersebut, gambar yang dicetak akan menghasilkan gambar yang lebih maksimal dan sempurna.


Beberapa perangkat teknologi yang termasuk New Media adalah :

Wide Web Internet dan Dunia
Televisi digital
Digital Cinema
Personal Komputer (PC)
DVD (Digital Versatile Disc atau Digital Video Disc)
CD (Compact Disc)
Personal Komputer (PC)
Portable Media Players (seperti MP3 Player)
Mobile (atau Cell) Phones
Video (atau Komputer) Game
Virtual Reality (VR)
Artificial Intelligence (AI)

Perbedaan utama antara Media Digital dan Media Analog :

Pertama, media digital unggul dibandingkan dengan Media analog. Media digital mampu memindahtangan kan suatu hal ke seluruh platform media, mudah dimanipulasi dan mendunia atau memiliki banyak jaringan.

Kedua, media digital juga mudah untuk memanipulasi dan akhirnya dapat direproduksi tanpa batas waktu dan tanpa kehilangan kualitas tentunya. Singkatnya, system digital melebihi system analog dalam hal kecepatan, kualitas dan kinerja-nya.

Pada tahun 1950-an sampai 1960-an, internet bukan satu-satunya media baru yang ada di dunia. Selain internet yang saling terkait jaringan komputer, saat itu telah ada satelit, kabel nirkabel, serat optic dan kawat yang memungkinkan model tradisional komunikasi massa untuk secara radikal diubah. Melalui search engine atau mesin pencari, pengguna dapat mencari kata kunci menggunakan 'Yahoo', 'Lycos', 'Ask Jeeves', 'Alta Vista' dan 'Google', jutaan orang di seluruh dunia kini memiliki akses cepat, mudah, luas dan jumlah yang beragam untuk mendapatkan informasi secara online.

Bahkan, menurut Hermawan Kartajaya, seorang Presiden World Marketing Association (pakar pemasaran berkewarganegaraan Indonesia) ketika memberikan keynote speech di World Marketing Conference di Manila. Televisi yang masih ampuh menempuh pasar massal di berbagai Negara di Asia, semakin hari semakin kecil pengaruhnya terhadap konsumen. Hal ini disebabkan dengan adanya telepon genggam dan internet. Saat ini, pengaruh televisi dalam merengkuh pasar Asia masih 90% dan new media masih sekitar 20%. “Namun, pada tahun 2020, pengeruh televisi tinggal 10%” Kata Hermawan.

Senada dengan Hermawan Kartajaya, Stephen Yap, Direktur sebuah perusahaan pemasaran , Client Services and Insight, pun mengatakan demikian. “Saat ini masih sulit mengalahkan teve untuk menjangkau kalangan luas,” katanya. Namun, pengaruh new media, terutama mobile phone, tumbuh dengan cepat. Konsumen lebih sering menggunakan mobile phone — baik untuk menelpon, sms, browsing, cek email, dan lain-lain — ketimbang nonton teve.

Dengan bertumbuhnya New Media seperti internet, akan mengubah system pemasaran perusahaan. Sistem penjualan dan promosi barang yang saat ini banyak melalui media cetak, televisi dan radio akan diubah sistemnya dengan menggunakan media internet, hal ini dimaksudkan agar bersentuhan langsung dengan konsumen.

Pada awal tahun 1950-an, komputer digunakan sebagai media untuk meng-koordinir informasi di beberapa lokasi. Periode ini pada umumnya dikenal sebagai ‘generasi pertama’ yang terutama mengendalikan perangkat mekanik dan elektrimekanik. Sebaliknya, pada ‘generasi kedua’, komputer biasanya dihubungkan dengan mereka yang bekerja dengan menggunakan tabung vakum. Pada saat itu, sebuah komputer dengan memori kurang dari 1 megabyte akan mengisi seperempat lapangan sepak bola. Dengan kedatangan transistor diskrit dan SSI-, sirkuit terpadu LSI-MSI- pada tahun 1970, sehingga sistem komputer 'generasi ketiga' yang diproduksi dengan menggembar-gemborkan kelebihan portable minicomputers.

Tak pelak lagi, generasi ini juga akan digantikan dengan 'generasi keempat' yang saat ini menggunakan sirkuit VLSI terpadu yang mengeluarkan produk pertamanya yaitu komputer pribadi atau desktop (paling sering diidentifikasi dengan arus 'New Media '). Namun, ini jelas bukan akhir dari pengembangan komputer; dengan lahirnya 'generasi kelima' komputer (saat ini pada tahap teoritis atau percobaan) menghasilkan komputer kuantum, komputer kimia, komputasi DNA, komputer optic dan spintronics berbasis komputer (suatu bentuk eksploitasi yang magnetoelectronics kuantum spin elektron negara serta memanfaatkan negara mereka dibebankan). Sementara itu, meskipun kami yakin bisa membantah bahwa internet adalah bagian dari New Media, sebagai internet perubahan itu sendiri sehingga beberapa kritikus berpendapat bahwa itu adalah sekarang juga memasuki fase baru dalam perkembangannya, salah satu yang jelas berbeda dari masa lalu.

Referensi :

Digital Cultures understanding New Media, by Gleen Creeber and Royston Martin

Kamis, 05 Agustus 2010

Nilai Kebersamaan

Seorang pria pulang kantor terlambat, dalam keadaan lelah dan penat, saat menemukan anak lelakinya yang berumur 5 tahun menyambutnya di depan pintu.

“Ayah, boleh aku tanyakan satu hal?”
“Tentu, ada apa?”
“Ayah, berapa rupiah ayah peroleh tiap jamnya?”
“Itu bukan urusanmu. Mengapa kau tanyakan soal itu?” kata si lelaki dengan marah.
“Saya cuma mau tahu. Tolong beritahu saya, berapa rupiah ayah peroleh dalam satu jam?” si kecil memohon.
“Baiklah, kalau kau tetap ingin mengetahuinya. Ayah mendapatkan Rp 20 ribu tiap jamnya.”
“Oh,” sahut si kecil, dengan kepala menunduk. Tak lama kemudian ia mendongakkan kepala, dan berkata pada ayahnya, “Yah, boleh aku pinjam uang Rp 10 ribu?”

Si ayah tambah marah, “Kalau kamu tanya-tanya soal itu hanya supaya dapat meminjam uang dari ayah agar dapat jajan sembarangan atau membeli mainan, pergi sana ke kamarmu, dan tidur. Sungguh keterlaluan. Ayah bekerja begitu keras berjam-jam setiap hari, ayah tak punya waktu untuk perengek begitu.”

Si kecil pergi ke kamarnya dengan sedih dan menutup pintu. Si ayah duduk dan merasa makin jengkel pada pertanyaan anak lelakinya.

Betapa kurang ajarnya ia menanyakan hal itu hanya untuk mendapatkan uang? Sekitar sejam kemudian, ketika lelaki itu mulai tenang, ia berpikir barangkali ia terlalu keras pada si anak. Barangkali ada keperluan yang penting hingga anaknya memerlukan uang Rp 10 ribu darinya, toh ia tak sering-sering meminta uang. Lelaki itu pun beranjak ke pintu kamar si kecil dan membukanya.

“Kau tertidur, Nak?” ia bertanya.
“Tidak, Yah, aku terjaga,” jawab si anak.
“Setelah ayah pikir-pikir, barangkali tadi ayah terlalu keras padamu,” kata si ayah. “Hari ini ayah begitu repot dan sibuk, dan ayah melampiaskannya padamu. Ini uang Rp 10 ribu yang kau perlukan.”

Si bocah laki-laki itu duduk dengan sumringah, tersenyum, dan berseru, “Oh, ayah, terima kasih.”

Lalu, sambil menguak bantal tempatnya biasa tidur, si kecil mengambil beberapa lembar uang yang tampak kumal dan lecek.

Melihat anaknya ternyata telah memiliki uang, si ayah kembali naik pitam. Si kecil tampak menghitung-hitung uangnya.

“Kalau kamu sudah punya uang sendiri, kenapa minta lagi?” gerutu ayahnya.
“Karena uangku belum cukup, tapi sekarang sudah.” jawab si kecil.
“Ayah, sekarang aku punya Rp 20 ribu. Boleh aku membeli waktu ayah barang satu jam? Pulanglah satu jam lebih awal besok, aku ingin makan malam bersamamu.”

Rabu, 04 Agustus 2010

Laki-laki sejati

Seorang perempuan muda bertanya kepada ibunya.
Ibu, lelaki sejati itu seperti apa?
Ibunya terkejut. Ia memandang takjub pada anak yang di
luar pengamatannya sudah menjadi gadis jelita itu.
Terpesona, karena waktu tak mau menunggu. Rasanya baru
kemarin anak itu masih ngompol di sampingnya sehingga
kasur berbau pesing. Tiba-tiba saja kini ia sudah
menjadi perempuan yang punya banyak pertanyaan.

Sepasang matanya yang dulu sering belekan itu,
sekarang bagai sorot lampu mobil pada malam gelap.
Sinarnya begitu tajam. Sekelilingnya jadi ikut
memantulkan cahaya. Namun jalan yang ada di depan
hidungnya sendiri, yang sedang ia tempuh, nampak masih
berkabut. Hidup memang sebuah rahasia besar yang tak
hanya dialami dalam cerita di dalam pengalaman orang
lain, karena harus ditempuh sendiri.

Kenapa kamu menanyakan itu, anakku?
Sebab aku ingin tahu.
Dan sesudah tahu?
Aku tak tahu.

Wajah gadis itu menjadi merah. Ibunya paham, karena ia
pun pernah muda dan ingin menanyakan hal yang sama
kepada ibunya, tetapi tidak berani. Waktu itu perasaan
tidak pernah dibicarakan, apalagi yang menyangkut
cinta. Kalaupun dicoba, jawaban yang muncul sering
menyesatkan. Karena orang tua cenderung menyembunyikan
rahasia kehidupan dari anak-anaknya yang dianggapnya
belum cukup siap untuk mengalami. Kini segalanya sudah
berubah. Anak-anak ingin tahu tak hanya yang harus
mereka ketahui, tetapi semuanya. Termasuk yang dulu
tabu. Mereka senang pada bahaya.

Setelah menarik napas, ibu itu mengusap kepala
putrinya dan berbisik.
Jangan malu, anakku. Sebuah rahasia tak akan
menguraikan dirinya, kalau kau sendiri tak penasaran
untuk membukanya. Sebuah rahasia dimulai dengan rasa
ingin tahu, meskipun sebenarnya kamu sudah tahu. Hanya
karena kamu tidak pernah mengalami sendiri,
pengetahuanmu hanya menjadi potret asing yang kamu
baca dari buku. Banyak orang tua menyembunyikannya,
karena pengetahuan yang tidak perlu akan membuat
hidupmu berat dan mungkin sekali patah lalu berbelok
sehingga kamu tidak akan pernah sampai ke tujuan. Tapi
ibu tidak seperti itu. Ibu percaya zaman memberikan
kamu kemampuan lain untuk menghadapi bahaya-bahaya
yang juga sudah berbeda. Jadi ibu akan bercerita.
Tetapi apa kamu siap menerima kebenaran walaupun itu
tidak menyenangkan?

Maksud Ibu?
Lelaki sejati anakku, mungkin tidak seperti yang kamu
bayangkan.
Kenapa tidak?
Sebab di dalam mimpi, kamu sudah dikacaukan oleh
bermacam-macam harapan yang meluap dari berbagai
kekecewaan terhadap laki-laki yang tak pernah memenuhi
harapan perempuan. Di situ yang ada hanya perasaan
keki.
Apakah itu salah?
Ibu tidak akan bicara tentang salah atau benar. Ibu
hanya ingin kamu memisahkan antara perasaan dan
pikiran. Antara harapan dan kenyataan.

Aku selalu memisahkan itu. Harapan adalah sesuatu yang
kita inginkan terjadi yang seringkali bertentangan
dengan apa yang kemudian ada di depan mata. Harapan
menjadi ilusi, ia hanya bayang-bayang dari hati. Itu
aku mengerti sekali. Tetapi apa salahnya
bayang-bayang? Karena dengan bayang-bayang itulah kita
tahu ada sinar matahari yang menyorot, sehingga berkat
kegelapan, kita bisa melihat bagian-bagian yang
diterangi cahaya, hal-hal yang nyata yang harus kita
terima, meskipun itu bertentangan dengan harapan.
Ibunya tersenyum.

Jadi kamu masih ingat semua yang ibu katakan?
Kenapa tidak?
Berarti kamu sudah siap untuk melihat kenyataan?
Aku siap. Aku tak sabar lagi untuk mendengar.
Tunjukkan padaku bagaimana laki-laki sejati itu.
Ibu memejamkan matanya. Ia seakan-akan mengumpulkan
seluruh unsur yang berserakan di mana-mana, untuk
membangun sebuah sosok yang jelas dan nyata.
Laki-laki yang sejati, anakku katanya kemudian,
adalah… tetapi ia tak melanjutkan.
Adalah?
Adalah seorang laki-laki yang sejati.

Ah, Ibu jangan ngeledek begitu, aku serius, aku tak
sabar.
Bagus, Ibu hanya berusaha agar kamu benar-benar
mendengar setiap kata yang akan ibu sampaikan. Jadi
perhatikan dengan sungguh-sungguh dan jangan memotong,
karena laki-laki sejati tak bisa diucapkan hanya
dengan satu kalimat. Laki-laki sejati anakku, lanjut
ibu sambil memandang ke depan, seakan-akan ia melihat
laki-laki sejati itu sedang melangkah di udara
menghampiri penjelmaannya dalam kata-kata.

Laki-laki sejati adalah…
Laki-laki yang perkasa?!
Salah! Kan barusan Ibu bilang, jangan menyela!
Laki-laki disebut laki-laki sejati, bukan hanya karena
dia perkasa! Tembok beton juga perkasa, tetapi bukan
laki-laki sejati hanya karena dia tidak tembus oleh
peluru tidak goyah oleh gempa tidak tembus oleh
garukan tsunami, tetapi dia harus lentur dan berjiwa.
Tumbuh, berkembang bahkan berubah, seperti juga kamu.
O ya?

Bukan karena ampuh, bukan juga karena tampan laki-laki
menjadi sejati. Seorang lelaki tidak menjadi laki-laki
sejati hanya karena tubuhnya tahan banting, karena
bentuknya indah dan proporsinya ideal. Seorang
laki-laki tidak dengan sendirinya menjadi laki-laki
sejati karena dia hebat, unggul, selalu menjadi
pemenang, berani dan rela berkorban. Seorang laki-laki
belum menjadi laki-laki sejati hanya karena dia
kaya-raya, baik, bijaksana, pintar bicara, beriman,
menarik, rajin sembahyang, ramah, tidak sombong, tidak
suka memfitnah, rendah hati, penuh pengertian,
berwibawa, jago bercinta, pintar mengalah, penuh
dengan toleransi, selalu menghargai orang lain, punya
kedudukan, tinggi pangkat atau punya karisma serta
banyak akal. Seorang laki-laki tidak menjadi laki-laki
sejati hanya karena dia berjasa, berguna, bermanfaat,
jujur, lihai, pintar atau jenius. Seorang laki-laki
meskipun dia seorang idola yang kamu kagumi, seorang
pemimpin, seorang pahlawan, seorang perintis,
pemberontak dan pembaru, bahkan seorang yang
arif-bijaksana, tidak membuat dia otomatis menjadi
laki-laki sejati!
Kalau begitu apa dong?

Seorang laki-laki sejati adalah seorang yang melihat
yang pantas dilihat, mendengar yang pantas didengar,
merasa yang pantas dirasa, berpikir yang pantas
dipikir, membaca yang pantas dibaca, dan berbuat yang
pantas dibuat, karena itu dia berpikir yang pantas
dipikir, berkelakuan yang pantas dilakukan dan hidup
yang sepantasnya dijadikan kehidupan.
Perempuan muda itu tercengang.

Hanya itu?

Seorang laki-laki sejati adalah seorang laki-laki yang
satu kata dengan perbuatan!
Orang yang konsekuen?
Lebih dari itu!
Seorang yang bisa dipercaya?
Semuanya!

Perempuan muda itu terpesona.
Apa yang lebih dari yang satu kata dan perbuatan?
Tulus dan semuanya? Ahhhhh! Perempuan muda itu
memejamkan matanya, seakan-akan mencoba membayangkan
seluruh sifat itu mengkristal menjadi sosok manusia
dan kemudian memeluknya. Ia menikmati lamunannya
sampai tak sanggup melanjutkan lagi ngomong. Dari
mulutnya terdengar erangan kecil, kagum, memuja dan
rindu. Ia mengalami orgasme batin.

Ahhhhhhh, gumannya terus seperti mendapat tusukan
nikmat. Aku jatuh cinta kepadanya dalam penggambaran
yang pertama. Aku ingin berjumpa dengan laki-laki
seperti itu. Katakan di mana aku bisa menjumpai
laki-laki sejati seperti itu, Ibu?
Ibu tidak menjawab. Dia hanya memandang anak gadisnya
seperti kasihan. Perempuan muda itu jadi bertambah
penasaran.

Di mana aku bisa berkenalan dengan dia?
Untuk apa?
Karena aku akan berkata terus-terang, bahwa aku
mencintainya. Aku tidak akan malu-malu untuk
menyatakan, aku ingin dia menjadi pacarku, mempelaiku,
menjadi bapak dari anak-anakku, cucu-cucu Ibu. Biar
dia menjadi teman hidupku, menjadi tongkatku kalau
nanti aku sudah tua. Menjadi orang yang akan memijit
kakiku kalau semutan, menjadi orang yang membesarkan
hatiku kalau sedang remuk dan ciut. Membangunkan aku
pagi-pagi kalau aku malas dan tak mampu lagi bergerak.
Aku akan meminangnya untuk menjadi suamiku, ya aku tak
akan ragu-ragu untuk merayunya menjadi menantu Ibu,
penerus generasi kita, kenapa tidak, aku akan
merebutnya, aku akan berjuang untuk memilikinya.

Dada perempuan muda itu turun naik.
Apa salahnya sekarang wanita memilih laki-laki untuk
jadi suami, setelah selama berabad-abad kami perempuan
hanya menjadi orang yang menunggu giliran dipilih?
Perempuan muda itu membuka matanya. Bola mata itu
berkilat-kilat. Ia memegang tangan ibunya.
Katakan cepat Ibu, di mana aku bisa menjumpai
laki-laki itu?
Bunda menarik nafas panjang. Gadis itu terkejut.
Kenapa Ibu menghela nafas sepanjang itu?
Karena kamu menanyakan sesuatu yang sudah tidak
mungkin, sayang.
Apa? Tidak mungkin?
Ya.
Kenapa?
Karena laki-laki sejati seperti itu sudah tidak ada
lagi di atas dunia.
Oh, perempuan muda itu terkejut.
Sudah tidak ada lagi?
Sudah habis.
Ya Tuhan, habis? Kenapa?
Laki-laki sejati seperti itu semuanya sudah amblas,
sejak ayahmu meninggal dunia.
Perempuan muda itu menutup mulutnya yang terpekik
karena kecewa.
Sudah amblas?

Ya. Sekarang yang ada hanya laki-laki yang tak bisa
lagi dipegang mulutnya. Semuanya hanya pembual.
Aktor-aktor kelas tiga. Cap tempe semua. Banyak
laki-laki yang kuat, pintar, kaya, punya kekuasaan dan
bisa berbuat apa saja, tapi semuanya tidak bisa
dipercaya. Tidak ada lagi laki-laki sejati anakku.
Mereka tukang kawin, tukang ngibul, semuanya bakul
jamu, tidak mau mengurus anak, apalagi mencuci celana
dalammu, mereka buas dan jadi macan kalau sudah dapat
apa yang diinginkan. Kalau kamu sudah tua dan tidak
rajin lagi meladeni, mereka tidak segan-segan menyiksa
menggebuki kaum perempuan yang pernah menjadi ibunya.
Tidak ada lagi laki-laki sejati lagi, anakku. Jadi
kalau kamu masih merindukan laki-laki sejati, kamu
akan menjadi perawan tua. Lebih baik hentikan mimpi
yang tak berguna itu.
Gadis itu termenung. Mukanya nampak sangat murung.

Jadi tak ada harapan lagi, gumamnya dengan suara
tercekik putus asa. Tak ada harapan lagi. Kalau begitu
aku patah hati.
Patah hati?
Ya. Aku putus asa.
Kenapa mesti putus asa?
Karena apa gunanya lagi aku hidup, kalau tidak ada
laki-laki sejati?
Ibunya kembali mengusap kepala anak perempuan itu,
lalu tersenyum.
Kamu terlalu muda, terlalu banyak membaca buku dan
duduk di belakang meja. Tutup buku itu sekarang dan
berdiri dari kursi yang sudah memenjarakan kamu itu.
Keluar, hirup udara segar, pandang lagit biru dan
daun-daun hijau. Ada bunga bakung putih sedang mekar
beramai-ramai di pagar, dunia tidak seburuk seperti
yang kamu bayangkan di dalam kamarmu. Hidup tidak
sekotor yang diceritakan oleh buku-buku dalam
perpustakaanmu meskipun memang tidak seindah
mimpi-mimpimu. Keluarlah anakku, cari seseorang di
sana, lalu tegur dan bicara! Jangan ngumpet di sini!

Aku tidak ngumpet!
Jangan lari!
Siapa yang lari?
Mengurung diri itu lari atau ngumpet. Ayo keluar!
Keluar ke mana?
Ke jalan! Ibu menunjuk ke arah pintu yang terbuka.
Bergaul dengan masyarakat banyak.
Gadis itu termangu.
Untuk apa? Dalam rumah kan lebih nyaman?
Kalau begitu kamu mau jadi kodok kuper!
Tapi aku kan banyak membaca? Aku hapal di luar kepala
sajak-sajak Kahlil Gibran!
Tidak cukup! Kamu harus pasang omong dengan mereka,
berdialog akan membuat hatimu terbuka, matamu melihat
lebih banyak dan mengerti pada kelebihan-kelebihan
orang lain.
Perempuan muda itu menggeleng.
Tidak ada gunanya, karena mereka bukan laki-laki
sejati.
Makanya keluar. Keluar sekarang juga!
Keluar?
Ya.

Perempuan muda itu tercengang, suara ibunya menjadi
keras dan memerintah. Ia terpaksa meletakkan buku,
membuka earphone yang sejak tadi menyemprotkan musik R
& B ke dalam kedua telinganya, lalu keluar kamar.
Matahari sore terhalang oleh awan tipis yang berasal
dari polusi udara. Tetapi itu justru menolong matahari
tropis yang garang itu untuk menjadi bola api yang
indah. Dalam bulatan yang hampir sempurna, merahnya
menyala namun lembut menggelincir ke kaki langit.
Silhuet seekor burung elang nampak jauh tinggi
melayang-layang mengincer sasaran. Wajah perempuan
muda itu tetap kosong.

Aku tidak memerlukan matahari, aku memerlukan seorang
laki-laki sejati, bisiknya.
Makanya keluar dari rumah dan lihat ke jalanan!
Untuk apa?
Banyak laki-laki di jalanan. Tangkap salah satu. Ambil
yang mana saja, sembarangan dengan mata terpejam juga
tidak apa-apa. Tak peduli siapa namanya, bagaimana
tampangnya, apa pendidikannya, bagaimana otaknya dan
tak peduli seperti apa perasaannya. Gaet sembarang
laki-laki yang mana saja yang tergapai oleh tanganmu
dan jadikan ia teman hidupmu!
Perempuan muda itu tecengang. Hampir saja ia mau
memprotes. Tapi ibunya keburu memotong. Asal, lanjut
ibunya dengan suara lirih namun tegas, asal, ini yang
terpenting anakku, asal dia benar-benar mencintaimu
dan kamu sendiri juga sungguh-sungguh mencintainya.
Karena cinta, anakku, karena cinta dapat mengubah
segala-galanya.
Perempuan muda itu tercengang.

Dan lebih dari itu, lanjut ibu sebelum anaknya sempat
membantah, lebih dari itu anakku, katanya dengan suara
yang lebih lembut lagi namun semakin tegas, karena
seorang perempuan, anakku, siapa pun dia, dari mana
pun dia, bagaimana pun dia, setiap perempuan, setiap
perempuan anakku, dapat membuat seorang lelaki, siapa
pun dia, bagaimana pun dia, apa pun pekerjaannya
bahkan bagaimana pun kalibernya, seorang perempuan
dapat membuat setiap lelaki menjadi seorang laki-laki
yang sejati! ***

Jumat, 23 Juli 2010

Keajaiban Hidup Berdampingan: Pesona Pancaran Cahaya

Sungguh kita hidup pada suatu alam yang menakjubkan, kita lempar pandangan, maka kita akan melihat air yang transparan dan udara yang transparan. Mengapa kita butuh kepada benda-benda yang transparan ? … lalu kita tempatkan pada jendela-jendela, sehingga mencegah debu dan udara serta memasukkan cahaya. Sementara udara dan air bukanlah benda padat sehingga tidak bisa dijadikan seperti itu, dan es di daerah dingin akan mencair sebab pengaruh panas matahari, maka dominannya hanya dapat digunakan di suhu dingin. Kalau demikian apa yang dapat kita perbuat ? … Kita juga butuh pada benda-benda kaca yang bisa membesarkan suatu yang kecil dan mendekatkan sesuatu yang jauh.

Pertama kita ingin mengetahui simpanan-simpanan tumbuhan, dan membuka tabir rahasia-rahasia berbagai benda, lalu kita ingin menuju tingkat kedokteran dan perindustrian. Kedua kita ingin mengetahui benda-benda langit, mempelajari pegunungannya, sungai-sungainya, maka semua itu tidak dapat kita capai kecuali dengan benda-benda padat transparan ini yang tidak mengalir seperti air dan tidak menguap seperti udara. Demikianlah kebutuhan kita pada benda yang menguatkan daya pandangan kita yang lemah, dan memperbesar huruf-huruf tulisan untuk kita baca. Maka Allah Subhanahu wata'alah menciptakan Balur Shakhriy, seakan Dia berfirman ; " Wahai hamba-hambaku pandang dan pelajarilah materi benda bumi yang kelam nan gelap ini, Inilah Balur Shakhriy benda padat yang tembus pandang (transparan) ”. Pintu pengetahuan ini telah dibuka maka saatnya untuk menyelaminya.

Al Balur adalah sejenis kaca campuran semen atau kafur dengan timah oksida, diolah dengan mengunakan pasir putih, inilah pancaran lain dari cahaya agung Firman Allah Subhanah :

(( وفي الارض قطع متجاورات ))

Ini loh potongan-potongan yang bergandengan. Sepotong berupa batu bara sumber listrik yang bisa menerangi tempat-tempat tinggal dan jalan-jalan raya, potongan yang lain, ada yang mengandung pasir, ada yang mengandung semen, ada yang mengandung kafur, potongan lain berisi soda, ada lagi yang berisi botosa, disamping itu, kandungan-kandungan tersebut berasal dari beragam materi yang halus. Semua potongan yang saling bergandengan dan berdampingan tersebut kemudian diolah menjadi cermin atau lensa ataupun kaca. Lalu dengan alat ini dipelajarilah ilmu astronomi tentang benda benda langit dan giografi, biologi tentang benda-benda bumi. Tapi sangat disesalkan semuanya di monopoli oleh non muslim. Padahal Muslimun hanya membutuhkan satu generasi sebagai pelopor yang akan diikuti oleh generasi-generasi setelahnya. InsyaAllah akan segera menjadi kenyataan.

Potongan-potongan yang saling bergandengan ini bak lemari-lemari yang mana Allah SWT menyimpan di sana unsur-unsur kebahagian dan kehidupan, lalu menunjukkannya kepada hamba-Nya. Seandainya bumi ini bukan berupa bagian bagian yang berdampingan niscaya makhluk tidak mampu hidup di atasnya, tetapi Bumi ini berupa bagian-bagian yang berdampingan yang padanya beragam jenis seakan-akan dia adalah pasar yang padanya dijual semua yang dinginkan oleh jiwa dan menyenangkan mata pandangan.

Sungguh bumi ini indah menurut para Ulama dan Cendikiawan, gulita menurut orang-orang bodoh mereka tidak melihat yang tersurat bahkan mereka mencela. Coba lihat cahaya matahari yang memantul baur, benda teransparan, dan benda yang berbayang (yang tidak ditembus cahaya) dia merupakan udara dan cahaya. Bagaimana bumi ini diciptakan berbagian-bagian yang saling berdampingan sehinga dapat dipetik dari sesuatu yang dinginkan untuk tujauan yang maksudkan. SUBHANAALLAH pasir, semen, botosa, terkumpul pada tempat yang berbeda lalu dari benda tersebut dibentuklah lensa dengan berbagai bentuk dan ukuran sebagai alat mengumpulkan cahaya dan menyebarkannya.

Lensa-lensa berikut ada 2 macam ; pertama ; lensa mengumpulkan cahaya (lensa cekung) dan lensa menyebarkan cahaya ( lensa cembung) dan keduanya tidak terlepas dari enam macam, tiga macam untuk pengumpul dan tiga macam lain untuk penyebar, artinya lensa itu ada enam macam, 1. cembung dua sisi, 2. cembung satu sisi, 3. cekung dua sisi, 4. cekung satu sisi, 5. bulan sabit, 6. cekung satu sisi dan cembung sisi lain. Bentuk lensa 1, 2, 5 mengumpulkan sinar cahaya dan bentuk lensa 3, 4, 6 menyebarkan sinar cahaya. Inilah lensa-lensa yang berasl dari Balurah.

Ya Subhanaallah … Pada pembahasan ini juga Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman

((جعل فيها زوجين اثنين ))

"Dan Dia menjadikan padanya berpasang-pasanganan",

pada ayat lain :

ومن كل شيء خلقنا زوجين

" Dan dari segala sesuatu itu kami ciptakan berpasang-pasangan ".

Sungguh telah maklum bahwa aliran listrik terdiri dari dua kutub, kutub positif dan kutub negatif dan tumbuhan ada penjantan dan betina, demikian juga pasangan-pasangan itu terdapat pada buatan manusia berupa ilmu matematika, karena ilmu matematika dan segala bentuk ilmu hisab tidak terlepas dari dua perkara Pengumpulan dan penyebaran (pecahan) ; tambahan dan perkalian untuk pengumpulan, pengurangan dan pembagian untuk penyebaran (pecahan), demikian juga Lensa-lensa.

Demikianlah buatan manusia dan di sana beragam cipataan Allah ‘Azza wajal, Allah telah menciptakan batu balura, udara, air, dan Dia meletakkannya dalam bentuk bagian-bagian berdampingan di bumi-Nya sebagai simpanan yang diambil darinya bahan baku pruduksi lensa yang berguna dalam dunia ilmuan dan kehidupan.

Kita lihat bahwa Allah meletakkan lensa cembung dua sisi untuk mata kita, Mengapa ?? … karena lensa bentuk ini mengumpulkan cahaya, ketika bayangan mendekat dari mata, maka pusat tempat perkumpulan cahaya yang masuk melalui lensa menjauh, setiap kali menjauh maka gambarannya mendekat, Tetapi ciptaan Allah ini tidak mampu kita buat, coba perhatikan lensa-lensa yang kita pasang di ruan gelap pada tostel kamera (alat pengambil gambar) gambar tidak terjiplak dengan perantara lensa tersebut kecuali dengan ukuran jauh yang khusus. Berbeda dengan lensa mata kita yang bisa melihat segala sesuatu dari jarak jauh yang berbeda. Maka sandainya lensa mata kita padat seperti yang kita pasang pada kamera, maka kita tidak bisa melihat kecuali dari satu jarak yang jauh. Dan seandainya mata ini tetap dalam satu lensa cembung satu sisi, maka gambar yang diterima kadang kala berada pada jaring mata, kadang kala berada di depan dan kadang kala berada di belakangnya. Jaring mata itu sepeti penghalang yang menerima gambaran suatu benda di ruang gelap pada Tostel kamera. Berarti seseorang yang melihat satu benda tidak bisa melihat dengan pandangan yang bagus kecuali dari jarak kejauhan yang khusus. Akan tetapi kita melihat gambaran benda-benda dengan jelas dari jarak jauh yang berbeda, karena mata manusia mampu mengkoordinir lensanya menambah dan mengurangi cembungnya dengan semaunya, akan bertambah cembung ketika melihat benda yang jauh, dan berkurang cembung ketrika memandang benda yang dekat sesuai kumpulan cahaya benda yang masuk.

Sungguh sebuah keajaiban, Allah telah menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan, malam dan siang, betina dan jantan pada tumbuhan, lensa cembung dan lensa cekung, kutub positif dan kutub negatif pada aliran listerik, demikian juga mata manusia telah dijadikan berpasangan dari asfek lensanya ada pengatur jarak jauh dan ada pengatur jarak dekat.

((ان ربي لطيف لما يشاء إنه هو العليم الحكيم ))

" sesungguhnya Tuhanku maha halus terhadap sesuatu yang Dia kehendaki Sesungguhnya Dia maha mengetahui lagi maha bijaksana ". Inilah kehalusan dan kelembutan ini juga adalah hikmah.


Al Bashiroh > Tafsir > Keajaiban Hidup Berdampingan